Ku Kira Kau Rumah Aku datang kepadamu dengan lelah yang tak sempat kujelaskan, kau menyambut tanpa banyak tanya, dan aku pun percaya bahwa diamku aman di sana. Kau mendengarkan, seperti dinding yang tak menghakimi retak, seperti lampu yang tak pernah bertanya mengapa aku pulang terlalu malam dengan hati yang berantakan. Perlahan aku meletakkan harap di sudut-sudut namamu, menyusun mimpi kecil di antara pesan-pesan singkat yang terasa begitu berarti. Aku kira kau rumah— tempat pulang tanpa syarat, tempat lelah tak perlu diterjemahkan, tempat luka tak harus dijelaskan. Namun kau hanya membuka pintu, tak pernah berniat menguncinya. Dan aku, terlalu nyaman untuk bertanya apakah aku diundang untuk tinggal. Hari demi hari aku yang selalu kembali, sementara kau tak pernah benar-benar menunggu. Aku memanggil namamu dan yang menjawab hanya gema dari harapku sendiri. Di ruang yang kupikir milik kita, aku duduk sendirian, memeluk sunyi yang dulu kau hangatk...