Ku Kira Kau Rumah





Aku datang kepadamu
dengan lelah yang tak sempat kujelaskan,
kau menyambut tanpa banyak tanya,
dan aku pun percaya
bahwa diamku aman di sana.

Kau mendengarkan,
seperti dinding yang tak menghakimi retak,
seperti lampu yang tak pernah bertanya
mengapa aku pulang terlalu malam
dengan hati yang berantakan.

Perlahan aku meletakkan harap
di sudut-sudut namamu,
menyusun mimpi kecil
di antara pesan-pesan singkat
yang terasa begitu berarti.

Aku kira kau rumah—
tempat pulang tanpa syarat,
tempat lelah tak perlu diterjemahkan,
tempat luka tak harus dijelaskan.

Namun kau hanya membuka pintu,
tak pernah berniat menguncinya.
Dan aku,
terlalu nyaman untuk bertanya
apakah aku diundang untuk tinggal.

Hari demi hari
aku yang selalu kembali,
sementara kau tak pernah benar-benar menunggu.
Aku memanggil namamu
dan yang menjawab
hanya gema dari harapku sendiri.

Di ruang yang kupikir milik kita,
aku duduk sendirian,
memeluk sunyi
yang dulu kau hangatkan
dengan kehadiran.

Saat itu aku mengerti:
rumah tak pernah pergi tanpa pamit,
rumah tak membuat penghuninya
merasa asing.

Ku kira kau rumah.
Ternyata kau persinggahan
yang terlalu nyaman
hingga aku lupa
tidak semua yang hangat
ditakdirkan untuk menetap.

Kini aku belajar pulang
ke diriku sendiri,
mengumpulkan sisa-sisa rasa
yang sempat kutitipkan padamu.

Jika suatu hari kau lewat
di ingatanku,
aku tak lagi ingin menetap—
cukup menunduk,
tersenyum sebentar,
lalu melanjutkan perjalanan.

Karena kini aku tahu,
rumah sejati
tak membuatku kehilangan diri,
dan pulang yang paling jujur
selalu ada
di dalam dada.



by: ana ahillah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ternyata Aku Masih Terluka

Bertahanlah .....!