Ku Kira Kau Rumah
Aku bertemu denganmu pada sebuah waktu yang tidak pernah kusiapkan namanya. Hari itu biasa saja, bahkan terlalu biasa untuk menjadi awal dari sesuatu yang besar. Langit tak runtuh, hujan tak turun, dan jantungku berdetak seperti biasanya. Namun sejak tatap pertamamu singgah di mataku, aku tahu: ada sesuatu yang akan tinggal lebih lama dari sekadar perkenalan.
Kau datang seperti tempat berteduh—tenang, ramah, dan membuatku lupa bahwa dunia di luar sering kali kejam. Kata-katamu tidak berlebihan, sikapmu tidak memaksa. Kau mendengarkan dengan sungguh-sungguh, seolah setiap ceritaku layak untuk dipahami. Di hadapanmu, aku tak perlu menjelaskan luka-luka lama; kau tidak bertanya, namun seakan mengerti.
Sejak itu, aku sering pulang ke percakapan kita. Setiap pesan darimu terasa seperti lampu yang menyala di sore hari, mengusir gelap sebelum malam benar-benar tiba. Aku mulai menaruh lelahku di pundakmu, menitipkan resahku di kalimat-kalimatmu. Aku kira, kau rumah.
Rumah—tempat seseorang kembali tanpa takut dihakimi. Tempat yang menerima berantakan dan diam, juga tawa dan air mata. Dan kau memberiku semua itu, atau setidaknya, ilusi yang nyaris sempurna.
Aku mulai menata harap di sudut-sudut namamu. Membayangkan hari esok yang diisi oleh kebiasaan-kebiasaan kecil: menyapa pagi bersamamu, membagi sunyi, menertawakan hal-hal sepele. Aku lupa bahwa rumah tidak hanya memberi hangat, tetapi juga janji untuk tetap berdiri ketika badai datang.
Badai itu akhirnya tiba—pelan, nyaris tak terasa. Kau mulai jarang hadir. Jawabanmu singkat, waktumu terbagi. egomu tak terkendali, tak ada kalimat hanya kata. namun maknanya seperti menghunus jantung dalam 1 jiwa tanpa napas yg tersisa. Aku menghibur diri dengan alasan-alasan yang kuciptakan sendiri. “Mungkin ia lelah,” kataku. “Mungkin ia sedang sibuk,” bisikku pada hati yang mulai cemas. Aku bertahan, karena kupikir rumah memang kadang sepi, tapi tak pernah pergi.
Namun suatu hari, aku menyadari sesuatu yang menyakitkan: aku selalu yang pulang, tapi kau tak pernah benar-benar menungguku. aku yang selalu pulang namun selalu terasingkan. aku yang selalu pulang namun tetap terabaikan. ku kira kau rumah namun ternyata hanya tempat singgah.
Aku duduk sendirian di ruang yang dulu terasa hangat. Kata-kata yang dulu menguatkanku kini terdengar asing. Aku memanggil namamu, tapi yang datang hanya gema. Saat itu aku mengerti—kau bukan rumah. Kau hanya persinggahan yang terlalu nyaman, hingga aku lupa bahwa persinggahan tidak ditakdirkan untuk menetap dan tetap tinggal.
Kesalahanku bukan mencintaimu, melainkan menganggapmu tempat pulang, padahal kau hanya tempat singgah. Aku membangun dinding harap di atas tanah yang tak pernah kau janjikan sebagai milikku.
Perpisahan kita tidak terjadi dengan ledakan emosi atau kata-kata besar. Ia hadir seperti senja yang memudar: perlahan, sunyi, dan tak bisa dicegah. Kau pergi tanpa benar-benar berpamitan, dan aku belajar melepaskan tanpa pernah benar-benar siap.
Hari-hari setelah kata-kata itu tidak mudah. Aku harus mengumpulkan diriku sendiri dari serpihan kecewa dalam kelukaan yang mungkin kelak hanya untuk aku kenang. terlalu mudah dan seolah-olah hanya permainan ke kanak-kanakan. aku mulai Belajar pulang ke diri sendiri, meski terasa asing dan dingin. Aku membersihkan ruang hatiku, membuka jendela yang pernah lama tertutup, membiarkan cahaya masuk meski masih terasa perih. dan kini itu semua seperti bayang-bayang dibawah terik matahari yang tak pernah benar-benar menerangi.
Kini aku tahu, rumah sejati bukan tentang siapa yang membuat kita nyaman sesaat, tetapi siapa yang bertahan saat kita rapuh. Rumah bukan tentang kata-kata manis, melainkan kehadiran yang konsisten & menenangkan. Rumah bukan tentang tempat kita berteduh tapi tentang siapa yang tetap tinggal ketika badai itu menerjang. Tentang siapa yang tetap bertahan ketika puing-puing kehancuran itu telah datang. Dan yang paling penting, rumah seharusnya tidak membuat kita kehilangan diri sendiri tapi menemukan jati diri mencari Ridho Ilahi.
Ku kira kau rumah.
tempat aku mencari hangat dari angin yang mendinginkan hujan
ku kira kau rumah
tempatku menggenggam tangan dari janji insan yang berlapaskan nama Tuhan
ku kira kau rumah
tempatku tinggal dari asingnya insan dengan sangsi Tuhan yang diamanahkan.
Jika suatu hari kau kembali lewat ingatan, aku tak lagi ingin menetap. Cukup menyapa sebentar, lalu melanjutkan perjalanan—karena kini aku tahu, ke mana aku harus pulang.
by: Ana Ahillah

Komentar
Posting Komentar